Sayurmaincat-Kotanopan-Mandailing Natal

KOTANOPAN

“Pondok Pesantren Subulussalam yang terdapat di Sayurmaincat, Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal mempunyai andil besar dalam mengusir penjajah dari bumi Gorang Sembilan (Madina). Pengurus Ponpes ketika itu banyak yang ditangkap Belanda kemudian di buang keluar sumatera”, ujar Ketua Yayasan Ponpes Subulussalam H. Endar Nasution, SH kepada wartawan saat acara penyambutan bulan Ramadhan 1431 H.

Masa kemerdekaan  Ponpes Subulusslam juga dijadikan markas TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Saat itu, pengurus, santri, guru-guru Ponpes Subulussalam mengadakan perlawanan terhadap penjajah Belanda.  Mereka ini mengadakan rapat dan musyawarah menentang kolonial Belanda di Ponpes Subulussalam. Namun gerakan ini tercium oleh Belanda, akhirnya beberapa pengurus dan guru Ponpes Subulussalam di panggil Asisten Residen ke Padang Sidempuan. Mereka di hadapkan kepada Demang bagian politik. Dari mulut Demang  saat itu sempat terlontar kata-kata, bahwa Ponpes Subulussalam adalah gudang politik. Sejak itu pemerintah Belanda  terus mengawasi kegiatan pengurus, santi dan gurunya.

Tidak berapa lama kemudian, Pemerintah Belanda menangkap lima orang pengurus Ponpes sekaligus warga desa Sayurmaincat, di antaranya Tinggi Lubis (di buang ke Digul – Irian Jaya), Yahya Malik Nasution (dibuang ke Digul – Irian Jaya), H. Alinafiyah Lubis (H. Mahals Lubis) di penjarakan di Suka Miskin-Jawa Barat, Makmur Lubis di buang ke Ternate dan Abdul Aziz di buang entah kemana. Walaupun terjadi pengkapan terhadap pengurus, namun santri-santri Subulussalam tetap meneruskan perjuangan kemerdekaan.

Pada tahun 1945 saat Proklamasi kemerdakaan RI, Ponpes Subulussalam kembali dijadikan Asrama TKR. Setelah asrama TKR di pindahkan, Ponpes Subulussalam di jadikan Asrama oleh Jawatan Sosial. Dan seterusnya, Ponpes Subulussalam dipergunakan tempat latihan Napindo. Kemudian tahun 1949, Ponpes Subulussalam kembali di buka dengan kepala sekolah H. Fahruddin Arjun Lubis.

Ponpes ini sudah banyak menghasilkan alumni-alumni yang cukup berhasil di kancah nasional dan internasional, mulai dari M. Yunan Nasution (Mantan Ketua Islamiyah Jakarta), Prof. Muktar Lintang (Guru Besar Universitas Kebangsaan Malaysia), KH. Ahmad Nasution (Mantan Ketua Pengadilan Tinggi Mahkamah Syariah Sumut), Ikhsan Nasution (Mantan Kepala Depertemen Agama Bengkulu), Mayir (Purn) Aspan Nasution (Mantan Pusdikkes-AD Jakarta), Letkol (Pur) Ayub Lubis (Mantan Ketua Perintis Kemerdekaan Sumut), Abdul Kadir (Mantan Pimpinan Ponpes KHA. Dahlan Sipirok) dan masih banyak alumni lain yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu.

Dilihat dari sejarah,  sebanyak 23  Pondok Pesantren di Madina saat ini, boleh di katakan Pondok Pesantren Subulusslam ini termasuk Pesantren tertua. Pesantren ini didirikan tanggal 5 Mei 1927, berawal dari perbedaan pendapat tentang penetapan awal bulan puasa Ramadhan sekitar tahun 1924-1925. Saat itu ada yang mengatakan ditetapkan berdasarkan rukyah (melihat awal puasa dari Puncak Tor Sihite) yang letaknya sebelah Timur Desa Sayurmaincat. Dan ada pula  pendapat yang menetapkan awal Ramadhan saat itu harus dengan ilmu hisab. Lama kelamaan pertentangan tersebut semakin meruncing di tengah-tengah masyarakat.

Untuk mengatasi itu, di adakanlah musyawarah kampung yang di hadiri cerdik pandai, hatobangon, alim  ulama, pemuka adat saat itu. Dalam musyawarah itu diputuskan, untuk menyesaikan persoalan yang terjadi di masyarakat ini harus di selesaikan dengan ilmu pengetahuan. Untuk itu perlu didirikan sebuah lembaga pendidikan guna tempat menuntut ilmu, maka berdirilah Pesantren ini dengan nama pada mulanya Maktab Subulussalam dengan jumlah 3 lokal dan santrinya 100 orang. Sedangkan kepala sekolah pertama di Maktab Subulussalam ini adalah H. Ilyas Lubis.

Dalam kesempatan itu juga diserah terimakan 3 ruangan bangunan baru dan alat-alat olahraga yang disumbangkan  donatur, yaitu dari keluarga  Ibu Krisna Utami, Jakarta, selaku ahli Waris Almarhum H. Dali Rukun Hasibuan melalui  Ir. Hasan Basri Nasution kepada Ketua Yayasan Ponpes Subulussalam H. Endar Lubis, SH. Selain itu, H. Abdurrasyid Lubis (anggota DPRD Tapanuli Selatan) dari Alumni juga menyerahkan bantuan pribadi Rp. 2.500.000 untuk perbaikan Mushalla.  Tampak hadir juga dari alumni lainnya, Moch. Ikhsan Parinduri (Anggota DPRD Madina), H. Ahmad Zainul Khobir Batubara. S. Ag, (Ka. KUA Panyabungan Kota), Fahrurrazi Parinduri, SH (Ka. KUA Panyabungan Selatan) dan alumni lainnya. Para alumni sengaja hadir untuk mewujudkan suatu bentuk kepedulian kepada Ponpes Subulussalam.

H. Abdurrasyid  saat kata sambutannya mengatakan,  ”Ponpes Subulussalam merupakan asset Islam, untuk itu marilah sama-sama kita bangun dan kita kembangkan. Kami dari alumni siap membantu untuk mengembangkan Pesantren ini. Kepada adik-adik sekalian yang saat ini sedang menuntut ilmu, harus bangga menjadi santri/santria Ponpes Subulussalam, sebab  Ponpes ini sudah banyak mencetak orang-orang sukses, baik ia di pemerintahan dan swasta.

Sedangkan kepala Sekolah Aliyah Esmin Pulungan, S. Ag dalam sambutannya mengharapkan kepada semua pihak agar sama-sama membantu kemajuan sekolah ini, terlebih-lebih terhadap alumni yang sudah banyak berhasil. Sebab, tanpa kerja sama semua pihak sangat sulit untuk mengembangkan Ponpes ini kearah yang lebih maju. Kepada santri-santriawati agar mengedepankan akhlak dan moral, baik ia di lingkungan sekolah maupun di masyarakat. Jadilah kamu contoh thauladan yang baik bagi masyarakat”, ujanya. Bertindak sebagai penceramah dalam peringatan ini adalah Al Ustad Drs. Zulyaden, MM dari Kandepag Madina. (LkT)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: